BRMP Bali Hadiri Rapat Koordinasi Luas Lahan Pertanian Provinsi Bali Tahun 2026
Denpasar, 12 Februari 2026 - bertempat di Ruang Rapat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dilaksanakan Rapat Koordinasi Luas Lahan Pertanian Provinsi Bali. Rapat Koordinasi dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Provinsi Bali beserta Staf Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Provinsi Bali, Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Bali, Ketua Majelis Madya Provinsi Bali, Kepala Dinas yang menangani Pertanian Kab/kota Se-Bali, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Sekretaris, Kepala Bidang/Ka. UPTD Lingkup Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Rapat dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. I Wayan Sunada, SP, M.Agb., Menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan data luas lahan dan luas tambah tanam seakurat mungkin dari semua lingkup Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se Provinsi Bali. Lebih lanjut Kepala Dinas menyampaikan eksisting data LBS,Produksi Beras 2025 per kabupaten 2025 (defisit Bangli, Buleleng dan Denpasar), Neraca pangan 2025 (defisit Bawang putih) dan Subak organisasi dibawah yang lebih tahu kondisi dilapangan (Subak sawah dan subak abian) sehingga perlu adanya kesepakatan menentukan LBS dan LTT Provinsi Bali.
Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA. Menyampaikan perbedaan data antara dinas, BPS dan ATR BPN perlu disikapi bersama supaya tidak ada dampaknya terkait dengan produksi. Dibutuhkan data yang mendekati riil dan menekankan pada data untuk bisa riil mungkin sesuai kenyataan dilapangan. Terkait dengan luas tambah tanam (LTT) solusinya dengan teknologi termasuk bibit, budidaya, mekanisasi, teknologi dalam diri petani (teknologi teknis dan non teknis), Faktor non teknis diduga yang mempengaruhi dalam peningkatan ltt sehingga ada banyak faktor dan dibenahi dari dalam dulu terkait dengan luas lahan terlebih dahulu (menyiapkan angka data yg lebih pasti dari Kabupaten/kota).
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Provinsi Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., menyampaikan target 2026 mencapai 149.373 Ha (target tahun in menjadi target ekspor). Capaian Luas Tambah Tanam (LTT) 2025 dan produksi padi 2025 danProduksi beras turun 7%.Permasalahan peningkatan LTT Padi di Bali : Alih fungsi lahan, LBS turun luas tanam meningkat, permasalahan saluran air, lahan bera lebih dr 2 tahun, alih komoditas, tergantung jaringan irigasiSolusi : peningkatan IP dg saprodi, alsintan dan air irigasi, pengembangan padi gogo di arel sawah, pompanisasi, infrastruktur air diperbaiki.
Sementara itu Perwakilan BPN I Made Suherman menyatakan bahwa 87% ditetapkan LP2B dari Luas Baku Sawah, sedangkan LBS terbaru menggunakan PP no 4 tahun 2006 dipakai peta 1:5000. Kebanyak kabupaten/kota melanggar karena tata ruang tidak sama dan harus dikembalikan ke sawah apabila itu LBS/LP2B. BPN itu hanya administrasi terkait ijin kewenangan daerah harapannya tanaman pangan tidak boleh berkurang, LBS harus jelas menentukan tata ruang daerah. Harapannya pak Kadis lebih detail terkait sawah dan kebun 2020 LBS 68000 Ha, kami berharap mendapatkan penetapan lengkap data LBS sehingga apabila ada kendala dalam mencari data bisa berkoordinasi dengan Kanca di BPN masing-masing Kabupaten/Kota.