Monitoring Penerapan Smart Farming dan Pertanian Modern di Subak Gembalan Klungkung
Klungkung, 2 Juni 2026 – Transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan terus didorong di berbagai daerah, termasuk di Bali. Salah satu upaya tersebut terlihat melalui kegiatan monitoring penerapan teknologi digital, smart farming, dan pertanian modern yang dilaksanakan di Subak Gembalan, Desa Selat, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Kegiatan monitoring ini dilakukan bersama Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung dan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Klungkung guna melihat secara langsung perkembangan adopsi teknologi pertanian di tingkat petani.
Subak sebagai warisan budaya pertanian Bali memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Namun, tantangan pertanian modern seperti keterbatasan tenaga kerja, perubahan iklim, serta tuntutan peningkatan produktivitas mengharuskan petani mulai mengadopsi berbagai inovasi teknologi.
Pekaseh Subak Gembalan, I Ketut Sutina, mengatakan bahwa pada musim tanam saat ini petani menanam varietas unggul baru (VUB) padi Inpari 49 dan Ciherang. Kedua varietas tersebut dipilih karena memiliki potensi hasil yang baik, adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat, serta telah banyak digunakan oleh petani di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam aspek budidaya, petani Subak Gembalan juga telah menerapkan mekanisasi pertanian pada beberapa tahapan produksi. Pengolahan tanah dilakukan menggunakan traktor sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien serta mampu mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual. Untuk panen petani telah memanfaatkan mesin perontok padi (power thresher) yang mampu mempercepat proses pascapanen serta mengurangi kehilangan hasil. Penerapan mekanisasi tersebut menunjukkan bahwa petani Subak Gembalan mulai bergerak menuju sistem pertanian modern.
I Ketut Sutina juga mengatakan bahwa petani di subaknya membutuhkan dukungan dari pemerintah terkait pembinaan mengenai standar mutu padi, standar gabah, penanganan pascapanen yang baik, maupun persyaratan kualitas yang dibutuhkan pasar. Pemahaman tersebut "merupakan bagian penting buat kami sebab standar mutu gabah dan beras tidak hanya menentukan harga jual produk, tetapi juga berpengaruh terhadap daya saing komoditas di pasar" ungkapnya.
Menurut Ni Putu Sutami (Penyuluh BRMP Bali) Kegiatan monitoring ini memberikan gambaran bahwa petani di Subak Gembalan telah menunjukkan kemajuan dalam adopsi mekanisasi pertanian melalui penggunaan traktor dan power thresher serta penggunaan varietas unggul baru.
"Namun, untuk mewujudkan pertanian yang benar-benar modern dan berdaya saing, masih diperlukan penguatan kapasitas petani melalui pelatihan mengenai standar mutu padi dan gabah, manajemen pascapanen, digitalisasi usaha tani, serta penerapan teknologi smart farming secara lebih komprehensif" jelasnya.
Disampaikan pula sinergi antara petani, kelembagaan subak, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mempercepat transformasi pertanian menuju sistem yang produktif, efisien, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
"Dengan dukungan pembinaan yang tepat, Subak Gembalan berpotensi menjadi salah satu contoh penerapan pertanian modern yang tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal Bali" tutupnya.
(Ni Putu Sutami)