BRMP Bali Perkuat Sinergi Percepatan Luas Tambah Tanam dan Sosialisasikan PM-AAS di Buleleng
Buleleng, 17 Juli 2026 – Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali menggelar Temu Koordinasi bersama Dinas Pertanian, penyuluh, dan petani Kabupaten Buleleng guna menyamakan persepsi sekaligus memperkuat sinergi dalam percepatan capaian Luas Tambah Tanam (LTT) serta sosialisasi Program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Utama Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng ini juga dihadiri Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Kelsi Penyuluh Provinsi Bali, serta Penyuluh CWS Provinsi Bali.
Mewakili Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Sekretaris Dinas, drh. Ni Luh Prima Diantari Wati, menyampaikan bahwa realisasi LTT Kabupaten Buleleng hingga Juli 2026 telah mencapai 52 persen. Namun, memasuki musim kemarau, keterbatasan air menjadi tantangan utama dalam mempertahankan percepatan tanam padi. "Kami membutuhkan sinergi seluruh pihak, termasuk dukungan BRMP Bali, untuk merumuskan strategi yang tepat agar target LTT di Kabupaten Buleleng dapat tercapai," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BRMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., memaparkan dinamika capaian target LTT di Provinsi Bali, termasuk kondisi Kabupaten Buleleng. Ia menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi pencapaian LTT, baik potensi maupun kendala yang dihadapi di lapangan, serta menawarkan sejumlah strategi percepatan yang dapat diterapkan sesuai kondisi wilayah.
Selain membahas percepatan LTT, Kepala BRMP Bali juga menyampaikan arah kebijakan pemerintah pusat di sektor pertanian melalui Program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS). Menurutnya, program ini menjadi salah satu strategi utama Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Ia menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas padi dari rata-rata 5 ton menjadi 10 ton per hektare melalui penerapan PM-AAS. Sementara itu, peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari 1,5 menjadi 2 dilakukan dengan mengoptimalkan subak-subak yang memiliki potensi pengembangan.
Lebih lanjut, Kepala BRMP Bali menyampaikan bahwa pada tahun 2026 Bali mendapat target penerapan PM-AAS seluas 15.976 hektare. Dengan jumlah penyuluh pertanian sebanyak 422 orang, setiap penyuluh memiliki target pendampingan sekitar 38 hektare. "Pelaksanaan penanaman ditargetkan berlangsung pada Juli hingga September agar tidak terkendala musim hujan. PM-AAS mengutamakan sistem tanam benih langsung sehingga waktu tanam menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilannya," jelasnya.
Untuk meningkatkan keyakinan petani terhadap manfaat PM-AAS, Kepala BRMP Bali turut memaparkan berbagai keberhasilan penerapan program tersebut di sejumlah daerah, termasuk perkembangan demplot PM-AAS di Subak Tibubeleng, Kabupaten Jembrana, seluas 100 hektar yang menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.
Materi teknis kemudian disampaikan oleh Penanggung Jawab Demplot PM-AAS BRMP Bali, I Nyoman Adijaya, S.P., M.P., yang menjelaskan petunjuk teknis budidaya padi PM-AAS mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen. Selanjutnya, Katimker Pendampingan Program Wilayah II BRMP Bali, Putu Sugiarta, S.P., M.Agb., memaparkan perkembangan penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk wilayah Buleleng, Jembrana, Badung, dan Tabanan.
Dalam sesi diskusi, Pekaseh Subak Temukus, Gede Sumawa, mengungkapkan bahwa petani di wilayahnya telah lama menerapkan sistem tanam benih langsung (tabela) dengan pola tanam rapat yang memiliki prinsip serupa dengan PM-AAS. "Produksi padi kami dengan sistem tabela sudah mampu mencapai lebih dari 10 ton per hektare. Kami sangat tertarik menerapkan PM-AAS, terlebih jika ada dukungan tambahan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Kami optimistis hasilnya akan semakin baik," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BRMP Bali mengapresiasi antusiasme para petani dan mendorong penyuluh segera mengusulkan CPCL agar bantuan pemerintah dapat direalisasikan tepat waktu.
Sementara itu, Katimker Penyuluh Pertanian Kabupaten Buleleng Made Sumetriani, M.P., melaporkan bahwa antusiasme petani terhadap PM-AAS terus meningkat. Hingga saat ini, telah terdapat sekitar 50 petani kooperator yang menyatakan siap menerapkan PM-AAS dan telah mengajukan CPCL sebagai syarat memperoleh bantuan benih serta pupuk bersubsidi.
Senada dengan hal tersebut, Kelsi Penyuluh Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., meminta seluruh penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Kabupaten Buleleng segera menindaklanjuti arahan Menteri Pertanian dengan aktif mendampingi dan menyosialisasikan PM-AAS bersama pekaseh subak. "Kami berharap seluruh PPL segera mendata petani yang siap menerapkan PM-AAS. Data tersebut sangat penting karena berkaitan dengan penambahan kuota pupuk bersubsidi bagi petani peserta program," tegasnya.
Kegiatan koordinasi ditutup dengan arahan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. I Nyoman Suastika, M.Si., yang menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk terus bersinergi bersama BRMP Bali, pemerintah kabupaten, penyuluh, serta petani dalam mendukung percepatan pelaksanaan program-program strategis Kementerian Pertanian, khususnya penerapan PM-AAS dan percepatan Luas Tambah Tanam di Kabupaten Buleleng. Begitu juga dengan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura di Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng Ir. I Gusti Ayu Maya Kurnia, M.Si., yang juga menyatakan siap bersinergi dan mendukung program-program Kementerian Pertanian di Buleleng.