BRMP Bali Monitoring dan Evaluasi Kegiatan PITER Tahap I di Kabupaten Bangli
Bangli, 17 Juli 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Program Percepatan Irigasi Tersier (PITER) Tahap I yang merupakan bagian dari program Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan di empat lokasi, yaitu Subak Denan, Subak Selat Peken, Subak Kaje Kauh, dan Subak Perayu, Kabupaten Bangli.
Program rehabilitasi jaringan irigasi tersier telah dimulai sejak Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026. Berdasarkan hasil monitoring, progres pembangunan di seluruh lokasi telah mencapai sekitar 80–85 persen dan secara umum berjalan sesuai dengan rencana.
Tim BRMP Bali melakukan peninjauan terhadap perkembangan fisik pembangunan, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta mengevaluasi manfaat rehabilitasi dalam meningkatkan layanan irigasi dan mendukung percepatan Luas Tambah Tanam (LTT). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebelum rehabilitasi, kerusakan saluran menyebabkan distribusi air tidak merata sehingga sebagian lahan sawah belum memperoleh pasokan air secara optimal.
Dampak keterbatasan distribusi air tercatat pada Subak Denan seluas 32 hektare dari total 64 hektare, Subak Selat Peken sekitar 40 hektare, Subak Kaje Kauh seluas 15 hektare, dan Subak Perayu sekitar 16,4 hektare. Setelah rehabilitasi selesai, distribusi air diharapkan kembali normal sehingga seluruh areal persawahan dapat ditanami tanpa ada lahan bera akibat kekurangan air.
Selama pelaksanaan pekerjaan, kendala utama yang dihadapi adalah masih adanya sebagian areal sawah yang belum dipanen sehingga proses pembangunan pada beberapa titik harus menunggu untuk menghindari kerusakan tanaman. Meski demikian, koordinasi yang baik antara pelaksana kegiatan, penyuluh pertanian, dan petani mampu menjaga kelancaran pekerjaan tanpa mengganggu aktivitas budidaya.
Dalam diskusi bersama petani dan para pekaseh, terungkap bahwa sebagian besar petani masih menerapkan dua kali musim tanam dalam setahun karena keterbatasan ketersediaan air serta sistem pembagian air berbasis Subak. Petani berharap adanya dukungan pompa irigasi maupun sumur bor agar intensitas tanam dapat ditingkatkan menjadi tiga kali setahun (IP 300), sekaligus mengurangi sistem pembagian air secara bergiliran.
Monitoring juga membahas penerapan teknologi budidaya padi melalui Program PM-AAS (Pertanian Modern–Agriculture Advanced System), penggunaan varietas unggul adaptif, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu. Petani menyampaikan bahwa peningkatan produksi tidak hanya ditentukan oleh penggunaan varietas unggul, tetapi juga sangat bergantung pada ketersediaan air, pengelolaan budidaya yang baik, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Ketua Tim Kerja Wilayah I BRMP Bali, Agung Prijanto, mengapresiasi semangat gotong royong para petani dan pengurus Subak dalam mendukung percepatan rehabilitasi jaringan irigasi. Ia berharap pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sehingga manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat tani.
Pada kesempatan yang sama, para pekaseh menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian dan BRMP Bali atas pendampingan yang telah diberikan. Mereka berharap program rehabilitasi jaringan irigasi dapat terus dilanjutkan dan diperluas mengingat masih banyak saluran irigasi yang memerlukan perbaikan, terutama dalam menghadapi musim kemarau.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, BRMP Bali menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pelaksanaan program rehabilitasi irigasi agar sesuai dengan rekomendasi teknis dan memberikan manfaat nyata bagi petani. Perbaikan infrastruktur irigasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi air, memperluas Luas Tambah Tanam (LTT), meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas padi, serta memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Bangli.
Penulis: Sudarmini & Tim Monev BRMP Bali