BRMP Bali Gelar FGD untuk Perkuat Penerapan Program PM-AAS di Jembrana
Jembrana, 30 Juni 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) di Balai Subak Tibubeleng, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan teknologi pertanian modern melalui Program Piloting Perakitan dan Modernisasi Kawasan Padi Skala Luas seluas 100 hektare dengan sistem Pertanian Modern- Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Program PM-AAS merupakan program strategis Kementerian Pertanian yang dilaksanakan pada tahun 2026 di 15 provinsi di Indonesia, termasuk Provinsi Bali. Di Provinsi Bali, BRMP Bali dipercaya sebagai pelaksana program untuk mendorong modernisasi budidaya padi melalui penerapan teknologi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
FGD ini bertujuan menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan, mengidentifikasi potensi dan permasalahan di lapangan, serta memperkuat kolaborasi dalam mendukung keberhasilan implementasi teknologi pertanian modern pada kawasan padi skala luas.
Kegiatan dihadiri sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai unsur, yaitu Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana, Ketua Tim Kerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Jembrana, Penyuluh CWS Provinsi Bali, Koordinator Wilayah Kecamatan Mendoyo dan Negara, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mendoyo, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), pengurus dan anggota Subak Tibubeleng, serta operator alat tanam seeder.
Melalui diskusi yang berlangsung secara partisipatif, para peserta menyampaikan berbagai masukan terkait kondisi di lapangan, tantangan dalam penerapan teknologi, serta peluang pengembangan kawasan pertanian modern. Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) memberikan ruang bagi seluruh peserta untuk berkontribusi secara aktif dalam merumuskan solusi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayah.
Hasil FGD mengidentifikasi sejumlah permasalahan utama yang dihadapi petani dalam budidaya padi di Subak Tibubeleng. Permasalahan tersebut meliputi keterbatasan irigasi, terutama pada musim kemarau atau Musim Tanam (MT) II, serangan hama dan penyakit tanaman, keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang sesuai dengan kondisi lahan, serta kekurangan tenaga kerja saat panen.
Menindaklanjuti berbagai masukan tersebut, BRMP Bali menawarkan sejumlah solusi, di antaranya mengaktifkan kembali kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) untuk meningkatkan kapasitas petani dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman secara ramah lingkungan, mengusulkan bantuan alsintan yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepada pemerintah pusat, serta mengusulkan bantuan irigasi perpompaan dan perbaikan jaringan irigasi guna menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., menegaskan bahwa keberhasilan Program PM-AAS sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, Subak Tibubeleng sebenarnya memiliki potensi ketersediaan air, namun masih menghadapi kendala pada sistem pengairan, khususnya saat musim kemarau atau MT II. "Subak Tibubeleng memiliki potensi ketersediaan air, namun masih menghadapi kendala pada sistem pengairan, khususnya saat musim kemarau atau MT II. Jadi, apabila permasalahan pengairan ini dapat diatasi, kami optimis indeks pertanaman (IP) dapat ditingkatkan dari 1,8 menjadi 2. Kami juga berharap dengan teratasinya berbagai kendala tersebut, ditambah dengan antusias petani program PM-AAS di Subak Tibubeleng dapat berjalan secara berkelanjutan," jelasnya.
Ia menambahkan, FGD menjadi wadah strategis untuk menyamakan persepsi, menyusun langkah bersama, serta memastikan setiap tahapan pelaksanaan Program PM-AAS berjalan sesuai kebutuhan petani di lapangan.
Sementara itu Kepala Bidang Pertanian, Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Jembrana I Komang Ngurah Arya Kusuma S.P., menyatakan dukungannya terhadap kegiatan PM-AAS di Subak Tibubeleng dengan membantu penyaluran pupuk bersubsidi, perbaikan jaringan irigasi, pendampingan melaui penyuluh dan POPT. "Harapan kami untuk petani subak agar serius melaksanakan program ini sesuai dengan petunjuk dari BRMP Bali sehingga kegiatan ini bisa dijadikan media pembelajaran menambah pengetahuan dan pendapatan petani menjadi lebih meningkat dan berkelanjutan" ujarnya.
Melalui kegiatan ini, BRMP Bali berharap terbangun komitmen bersama antara pemerintah daerah, penyuluh, petani, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan kawasan padi modern yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan nasional.