BRMP Bali Dampingi Penanaman Padi Model PM-AAS di Subak Sidakarya
Denpasar, 28 Agustus 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali melaksanakan pendampingan penanaman padi dengan model Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Subak Sidakarya, Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memastikan pelaksanaan program kolaboratif antara BRMP Bali, Kelompok Tim Kerja (Katimker), Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Selatan, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah binaan, Pekaseh, dan petani pelaksana dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan prinsip penerapan pertanian modern.
Melalui kegiatan ini, petani di Subak Sidakarya mulai diperkenalkan dengan model PM-AAS yang dikembangkan Kementerian Pertanian sebagai salah satu pendekatan pertanian modern yang berpotensi meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.
Penanaman dilaksanakan pada lahan seluas 0,05 hektare milik Bapak I Made Redika selaku Pekaseh Subak Sidakarya. Lahan tersebut ditanami padi varietas Cakrabuana Agritan dengan menerapkan metode PM-AAS sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan mendukung keberlanjutan sektor pertanian.
Cakrabuana Agritan merupakan salah satu Varietas Unggul Baru (VUB) yang direkomendasikan untuk mengantisipasi risiko kekeringan. Karakter adaptif terhadap perubahan iklim menjadikan varietas ini sebagai salah satu pilihan yang sesuai untuk dibudidayakan, terutama pada kondisi musim kemarau.
Varietas Cakrabuana Agritan memiliki umur sangat genjah, sekitar 104 hari setelah sebar (HSS) atau 75–90 hari setelah tanam (HST). Tanaman memiliki tinggi sekitar 105 sentimeter dengan batang kokoh dan relatif tahan rebah.
Selain itu, varietas ini memiliki daun bendera yang tegak, jumlah anakan mencapai 30–40 anakan, serta bentuk gabah panjang dan ramping. Potensi hasilnya dapat mencapai 10,2 ton per hektare dengan karakter nasi pulen. Varietas ini juga memiliki ketahanan terhadap penyakit blas serta berpotensi mendukung peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan irigasi maupun tadah hujan.
Sebelum penanaman dilakukan, tim melaksanakan pengukuran pH tanah untuk mengetahui tingkat keasaman atau kebasaan tanah. Pengukuran tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tanah sehingga ketersediaan unsur hara dapat dioptimalkan, kesuburan tanah tetap terjaga, serta strategi pemupukan dapat disusun secara lebih tepat.
Secara umum, pH tanah netral berada pada kisaran 6,5 hingga 7,5. Pada rentang tersebut, unsur hara esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium berada dalam kondisi yang relatif tersedia dan lebih mudah diserap oleh akar tanaman.
Hasil pengukuran pada lahan petani menunjukkan pH tanah sebesar 6,6. Kondisi tersebut tergolong ideal untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi karena tanah berada pada kondisi mendekati netral. Pada tingkat keasaman tersebut, sebagian besar unsur hara makro dan mikro dapat tersedia dan diserap oleh tanaman secara optimal.
Penanaman padi varietas Cakrabuana Agritan dilakukan menggunakan drum seeder dengan sistem tanam benih langsung atau tabela dan pola tanam jajar legowo 4:1. Melalui penerapan teknologi tersebut, diharapkan produktivitas padi dapat mencapai minimal 10 ton per hektare.
Penggunaan drum seeder menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan PM-AAS karena mampu mempercepat proses penanaman, menghasilkan jarak tanam yang lebih seragam, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta meningkatkan efisiensi budidaya padi.
Dalam penerapan PM-AAS, populasi tanaman dioptimalkan melalui penggunaan benih dengan kebutuhan yang lebih tinggi dibandingkan pola budidaya biasa. Jika pada budidaya konvensional kebutuhan benih sekitar 30 kilogram per hektare, maka dalam penerapan PM-AAS kebutuhan benih dapat mencapai sekitar 70 kilogram per hektare.
Selain penggunaan benih, kebutuhan pupuk juga disesuaikan dengan populasi tanaman dan kondisi lahan. Padi yang tumbuh lebih rapat dengan populasi yang lebih banyak memerlukan pengelolaan hara yang optimal agar pertumbuhan dan produktivitas tanaman dapat terjaga.
Pendampingan kegiatan PM-AAS merupakan bagian dari transformasi pertanian modern yang mengedepankan efisiensi dan optimalisasi berbagai komponen budidaya. Pendekatan tersebut mencakup penggunaan benih unggul, pengelolaan air yang tepat, pemupukan berimbang, pemanfaatan mekanisasi pertanian, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu.
Penerapan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung efisiensi biaya produksi. Prinsip PM-AAS juga menekankan penggunaan varietas unggul serta penerapan pola budidaya yang adaptif terhadap kondisi spesifik wilayah.
Kolaborasi antara BRMP Bali bersama para petugas pertanian dan petani di lapangan diharapkan dapat menjadi salah satu model percepatan modernisasi pertanian di Bali. Melalui sinergi yang terus diperkuat, penerapan PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta mendukung pencapaian target swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
(Tim LTT Kota Denpasar)