BRMP Bali Dampingi Komisi IV DPR RI, Kunjungan Kerja Ke ATP Badung
Badung 22 April 2026 - Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bali mendampingi Komisi IV DPR RI Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI. Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025-2026 di Badung Agro Techno Park, Desa Belok/Sidan Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Kunjungan Kerja dihadiri oleh Wakil Ketua dan seluruh Anggota Komisi IV, para pejabat lingkup Kementerian Pertanian termasuk BRMP Bali, Pengusaha mitra Komisi IV dan Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Provinsi Bali dan jajarannya, Badan Karantina Pertanian, Pejabat lingkup Pemda Badung, Penyuluh, Petani dan undangan lainnya.
Hal yang dibahas terkait permasalahan dan potensi pertanian di Bali secara umum. seperti kondisi kepemilikan lahan petani di Bali yang semakin sempit, kesuburan lahan, kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani hingga pentingnya hilrilisasi pertanian.
Terkait hal tersebut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman mengatakan dengan kepemilikan lahan yang sempit kita harus pandai-pandai mengatur penggunaan lahan dan memilih komoditas yang strategis. Mana yang cocok untuk tanaman pangan, hortikultura atau perkebunan.
Wakil Ketua Komisi IV juga menekankan agar dalam mengembangkan suatu komoditas pertanian harus konsisten. Sehingga usahatani bisa digarap dari hulu ke hilir. Jika tidak konsisten maka hilrilisasi pertanian tidak akan pernah terwujud. "Kapan kita bisa menikmati produk olahan pertanian kita sendiri jika hilrilisasi tidak berjalan. Sebagai contoh selama ini olahan coklat yang kita nikmati sebagian besar berasal dari luar negeri" ujarnya.
Sementara itu dalam sambutannya Bupati Badung yang dibacakan Asisten III Setda Kabupaten Badung Dr. I Wayan Wijana. S. Sos, M.Si., mengatakan meskipun sebagian besar pendapatan masyarakat Badung dari pariwisata akan tetapi Badung sangat Komitmen dengan sektor pertanian untuk menjaga ketahanan pangan. Salah satu komitmentnya adalah dengan dibangunnya ATP Badung. "ATP Badung dibangun Tahun 2018 dengan tujuan menyeimbangkan pembangunan di Badung Selatan dengan Badung Utara. Dimana Badung utara adalah daerah agraris dengan kopi sebagai komoditas unggulannya" ungkapnya.
Selain itu tujuan ATP adalah sebagai pusat pengembangan pertanian terintegrasi sesuai salah satu misi Kabupaten Badung mengintegrasikan pertanian dan pariwisata. "ATP ini juga sebagai kawasan edukasi bagi petani kopi untuk meningkatkan produktivitas kopi di Badung. Dalam pengelolaannya kami bekerjasama dengan Puslit Kopi Kakao Jember dan BRMP Bali sebagai pendamping teknis serta mengedukasi petani dalm pengelola tanaman kopi" tambahnya.
Terakhir I Wayan Wijana juga meminta dukungan dari Komisi IV DPR RI dan pihak lainnya terkait pembangunan Pertanian di Kabupaten Badung secara umum "Masalah kami di Badung
adalah biaya roduksi yang terus meningkat, kesuburan lahan menurun
dan langkanya tenaga kerja pertanian karena kurangnya minat generasi muda untuk bertani. untuk mengatasi permasalahan tersebut dukungan dari Komisi IV DPR RI, Kementerian Pertanian dan semua pihak terkait sangat kami butuhkan" ujarnya.
Sementara itu Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Andi Nur Alam Syah, STP, MT. menyatakan selalu siap membantu petani Bali dengan mendistribusikan bantuan sarana dan prasarana pertanian. "Kami berharap petani segera mengusulkan CPCL atas Bantuan Pemerintah (Banper) untuk sarana produksi pertanian. Mengingat tahun ini kita akan segera menghadapai musim kemarau saat ini juga Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian mulai melakukan mitigasi dengan perbaikan saluran irigasi dan perpompaan" jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan untuk petani perkebunan di Badung jika membutuhkan bisa mengajukan usulan pompa-pompa kecil untuk pengairan melalui Penyuluh atau Dinas Pertanian Kabupaten yang nantinya akan segera diverifikasi dan dikumpulkan BRMP Bali untuk diajukan ke Eselon I Kementan. "Kami harap dengan bantuan tersebut nantinya produksi tanaman akan tetap terjaga di musim kemarau" tambahnya.