BRMP Bali Hadiri Panen Perdana Padi Sri Sedana di Gianyar
Gianyar, 24 Mei 2026 – Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Bali (BRMP Bali) menghadiri panen perdana padi Sri Sedana di Subak Kumbuh, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Selain BRMP Bali panen perdana juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, perwakilan BRIN, BPSB Provinsi Bali, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kelsi Bali, Katimker Penyuluhan Kabupaten Gianyar, jajaran penyuluh pertanian BPP Ubud serta petani setempat.
Menurut Ketua Yayasan Asosiasi Organik Bali Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S, padi Sri Sedana merupakan padi hasil persilangan antara dua varietas lokal yang memiliki keunggulan berbeda yaitu, padi lokal Bali “Cicih Gondrong” dengan padi lokal Jawa Barat “Ngaos Rinjani”. “Selain umur panen yang lebih singkat, padi tersebut menghasilkan anakan lebih banyak dengan karakter nasi pulen dan aroma yang mendekati Cicih Gondrong” jelasnya.
Dari hasil pengamatan lapangan, Diketahui padi Sri Sedana menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan. Jumlah anakan mencapai sekitar 20 batang per rumpun dengan jumlah bulir rata-rata 158 per malai. Tinggi tanaman berkisar 67–80 sentimeter, panjang daun bendera mencapai 34–48 sentimeter, sedangkan berat 1.000 butir mencapai 29 gram.
Produktivitas rata-rata Bali saat ini mencapai sekitar 6,2 ton per hektar. Sedangkan berdasarkan hasil ubinan Sri Sedana pada 20 Mei, hasil pengamatan lapangan menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Dari hasil ubinan sebesar 7,1 kilogram, potensi produksi tercatat setara 11,36 ton per hektare. Setelah memperhitungkan faktor koreksi lapangan sebesar 15 persen, potensi hasil diperkirakan masih mampu mencapai sekitar 9,65 ton per hektare.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. I Wayan Sunada, SP., M.Agb., menyambut baik pengembangan varietas lokal tersebut. Menurutnya, penguatan padi lokal harus terus didorong melalui pengembangan dan pendaftaran varietas agar memiliki kepastian identitas dan manfaat yang lebih luas bagi petani.
“Padi lokal perlu terus dikembangkan dan didaftarkan menjadi varietas. Dengan begitu penerapan pertanian padi organik di Bali semakin berkembang. Harapannya produksi tidak turun, tapi malah meningkat,” ujarnya.
Sumber: https://perhiptanibali.com/jaga-cicih-gondrong-bali-lahirkan-sri-sedana